15 Oktober 2014

teruntuk untukku #2


detik berlalu
laju menggerus usia.
cukupkah waktu?


1510, 12:30

seperti haiku


#1
morning blues
remembering the day
he passed away

1410
in memoriam; our beloved nenek aki, St. Olloth Pilling


#2
like a shadow
all your memories
following me


#3
di keheningan
sehelai daun jatuh
menjemput takdir

suryaputra


langit seketika meredup. awan menutup
seberkas cahaya tiba-tiba melesat cepat
menelusup masuk. menyibak hawa sejuk
ke keputren


sang putri yang khusuk melafal mantra, terpana
melihat ketampanan sang Dewa
sementara Surya –sang batara, terpesona
melihat raut wajah nan jelita


: sebab mantra telah terucap
dan mereka pun terperangkap
mendekatdekap
silih



160914

01 Oktober 2014

tentang seseorang yang telah menanam wujudku.

setiap hari pertama di bulan sepuluh adalah harinya. hari yang bersejarah bagi dirinya. hari yang akan selalu diingatnya. adalah hari dimana dia keluar dari garba seorang wanita. menjejak dunia. menghirup udara.

setiap hari pertama di bulan sepuluh adalah harinya. dan di hari yang sama pula aku mengingatnya. mengingat segala tentangnya. yang tanpanya aku takkan pernah ada. iya. dia. seseorang yang telah menanam wujudku. ke dalam rahim ibu. ayahku.

selamat tambah usia ayah. maafkan anakmu yang payah

01102014
jelang subuh

Sejenak melarikan diri. Menepi ke Baduy.

6-7september 2014

Baduy dan tradisi, adalah dua hal yang saling berkaitan. Tanggal 6-7 September lalu saya berkesempatan mengunjungi Baduy dengan segala tradisinya. Sebenarnya keinginan ke Baduy sudah terpendam lama, tapi baru kesampaian minggu pertama bulan ini. Setelah sebelumnya seperti ada rangkaian pertanda yang menuntun langkah saya ke sana, diawali dengan menonton jalan-jalan Belda ke Baduy di Explore Indonesia di Kompas.tv, terus besoknya tidak sengaja bertemu dengan iringan orang Baduy-Dalam yang turun gunung di kawasan pemukiman Pondok Indah,kemudian berlanjut besoknya di status mas Ersta -teman FB- yang berkeinginan kesana. berdasarkan pertanda-pertanda itulah, saya membulatkan tekad untuk ke sana, karena menunggu waktu luang sepertinya tidak akan mudah datang. Akhirnya saya ikut ajakan mas Ersta ngetrip ke Baduy dan disepakati hari sabtu pagi bertemu di stasiun Duri, titik awal keberangkatan.

Sabtu subuh 6 september saya sudah terjaga, setelah persiapan dan sarapan kopi hitam, saya menuju stasiun Lenteng Agung untuk naik commuter line. di CL ini saya bertemu rombongan pertama dari Bogor, yang terdiri dari Mas Ersta, mba Tri & bang Ithing (si empunya trip), lalu Nico, Wisya & Ipeh. Setelah sampai di Stasiun Duri, saya bertemu rombongan kedua (Ucok, Dian & Lidya), lalu rombongan ketiga (mba Widhya & mba Dita) dan rombongan terakhir (Tedo & Aank). Total rombongan kami berjumlah 14 orang dari Jakarta.

Pukul 07.10 kereta yang saya tumpangi mulai berjalan. Sepanjang perjalanan saya lebih tertarik untuk melihat-lihat, maklum ini perjalanan kereta pertama saya ke arah barat. Dan ternyata dalam kereta masih saya jumpai pengasong yang hilir mudikmenjajakan dagangannya, seperti perjalanan kereta ekonomi jaman ketika belum ada kebijakan baru dari PT KAI. Seperti dejavu. Kira-kira dua setengah jam berikutnya, sampailah kami di stasiun Rangkas Bitung. Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan mencarter mobil Elf menuju Desa Ciboleger, desa terakhir yang merupakan gerbang awal menuju perkampungan Baduy. Perjalanan Elf memakan waktu hampir dua jam, dengan jalan yang berbelok-belok dan debu di mana-mana, saya lebih memilih untuk tidur sepanjang perjalanan. Sampai di Ciboleger, kami disambut seorang bapak paruh baya berikat kepala putih tanpa alas kaki. Mang Aja namanya, seorang Baduy-Dalam yang akan menjadi navigator dalam perjalanan kami sekaligus tempat bermalam kami nanti. Kami akan menginap di Kampung Cibeo, salah satu kampung Baduy-Dalam paling dekat dibanding dua kampung lainnya yaitu Cikertawana dan Cikeusik.

Pukul 01.00 siang setelah beristirahat dan makan siang, kaki-kaki kami mulai melangkah menapaki jalan setapak. Jalur berangkat melewati kampung Baduy-Luar Kaduketer. Perjalanan kami ditemani oleh Mang Aja beserta anak-anaknya (Kang Kodo dan Herman), juga Asep salah satu teman Herman. Mereka saya perhatikan tidak banyak bicara kecuali jika ditanya, itupun mereka hanya menjawab seperlunya. Mungkin tipikal orang Baduy-Dalam seperti itu, cenderung pendiam. Memasuki ladang di lereng-lereng bukit, hawa panas menyergap kami. Ternyata waktu itu memasuki musim tanam, orang-orang Baduy tampak sibuk membuka lahan pertanian dengan cara membakarnya terlebih dahulu untuk membasmi gulma dan semak belukar. Jalur ke Baduy-Dalam hampir seperti jalur naik gunung, ada turunan, tanjakan, landai, menyeberang sungai berbatu, memutar punggungan bukit, dan setapak kecil pinggir jurang. Saya sempat kewalahan mengatur nafas, maklum sudah lama sekali tidak pernah naik gunung lagi. Ditambah lagi, ketika sedang berjalan, efek nikotin seakan berkejaran dengan langkah kaki saya yang sudah tertatih-tatih, berebut membakar paru-paru saya.

Sepanjang jalur di kampung Baduy-Luar kami masih diperbolehkan untuk mengambil gambar, saya sempat memotret beberapa Leuit -lumbung padi masyarakat Baduy, lereng perbukitan,juga jembatan bambu dan sungai berbatu yang kami lewati. Memasuki perbatasan Baduy-Dalam –yang ditandai dengan kali kecil dan batu besar, Herman memperingatkankami untuk mematikan segala peralatan elektronik yang kami bawa. Saya mematikan ponsel dan digicam dan mengamankannya ke dalam tas. Perjalanan selanjutnya saya lebih banyak diam, menikmati pemandangan dan menghimpun tenaga agar sampai ke Baduy-Dalam tanpa terengah-engah.

Kira-kira 4 jam perjalanan jalan kaki –dan lebih banyak berhenti- akhirnya kami sampaijuga. Memasuki kampung Cibeo, kami disambut suara gemericik air sungai yang mengalir di sepanjang sisi luar kampung dan suara anak-anak kecil yang bermain angklung di balai. Tidak ada penerangan listrik, tidak ada musik, tidak ada detak jam, juga tidak ada dering telepon. Saya seperti memasuki mesin waktu menuju ke abad lampau di mana teknologi belum ada sama sekali. Saya merasakan ketenangan yang selama ini saya cari-cari. Suara alam yang membentuk harmoni dan udara yang masih murni.

Meski hanya menginap semalam di Baduy-Dalam tapi sangat meninggalkan kesan. Malam hari di sana tidak banyak aktivitas yang mereka lakukan, bahkan anak-anak kecil tidak banyak yang bermain di luar –meskipun saat itu terang bulan. Mereka lebih banyak berdiam dirumah, beristirahat atau membuat kerajinan tangan. Masyarakat Baduy saya perhatikan ketika sedang berbincang juga sewajarnya, jarang dengan volume suara yang kencang. Suasananya tenang. Hanya gemericik air sungai yang terus-menerus berdendang. Sesekali suara tawa dari kami –para tamu- yang justru menodai ketenangan itu.

Malam itu cuaca sangat bersahabat, terang bulan dan tidak hujan. Ketika sebagian teman-teman saya beristirahat, ditemani Nico saya berbincang dengan Kang Kodo. Meskipun Kang Kodo berkali-kali bilang tidak terlalu dalam mengetahui adat mereka, tapi dari perbincangan itu saya jadi tahu apa yang membedakan mereka dengan Baduy-Luar. Hal-hal apa saja yang diperkenankan bagi mereka, juga batasan-batasan apa saja yang tidak boleh dilanggar dan sanksi apa saja yang bakal diterima bila mereka melanggarnya. Banyak pepatah yang waktu itu Kang Kodo katakan, tapi yang paling saya ingat adalah “Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" (panjang tak bisa dipotong, pendek tak bisa disambung), itu salah satu alasan mengapa mereka tetap berjalan kaki seberapapun jauhnya, karena mereka tidak boleh memperpendek jarak dengan menumpang kendaraan. Setelah ngobrol panjang,menjelang pagi akhirnya kami memutuskan untuk tidur. Mengingat esok pagi kami sudah harus bangun dan pulang kembali, dan juga tengah malam itu Kang Kodo masih harus mencari madu yang kami pesan ke hutan.

Setelah tidur yang hanya sebentar, subuh saya sudah kembali terjaga. Geliat kehidupan masyarakat Baduy sudah dimulai ketika subuh tiba. Ibu-ibu beranjak ke sungai untuk mandi dan mencuci. Asap dapur juga terlihat mengepul menerobos atap-atap rumah. Setelah bersih-bersih diri dan sarapan pagi, pukul 7 kami meninggalkan kampung Cibeo. Setelah berpamitan dengan istri Mang Aja dan anak-anaknya yang kecil, dengan berat hati kaki kami kembali menyusuri jalan setapak untuk menuju Baduy-Luar.

Masih ditemani Mang Aja, Kang Kodo, Herman dan Asep, perjalanan kembali ini kira-kira memakan waktu 6 jam. Melewati jalur berlawanan arah dengan jalur berangkat. Kira-kira menjelang tengah hari kami sampai di kampung Baduy-Luar Gajeboh. Di sana kami istirahat untuk makan siang di salah satu rumah warga yang sepertinya memang sering dijadikan tempat transit bagi para tamu seperti kami. Di rumah ini pula saya membeli kerajinan tangan khas suku Baduy, syal tenun ikat, gelang jalinan dan gantungan kunci kayu. Tersedia juga cenderamata lain seperti tas anyaman dan kain sarung tenun khas Baduy.

Setelah makan siang, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tidak sampai satu jam, kami sudah sampai di desa Ciboleger. Setelah istirahat lagi sebentar dan berfoto bersama, kami berpamitan dengan Mang Aja dan lainnya untuk kembali ke Jakarta. Ada sesak yang menghimpit dada, ketika kami harus mengakhiri kebersamaan kami bersama mereka. Meskipun singkat, tapi sambutan Mang Aja dan keluarganya teramat sangat hangat.

Dengan menaiki mobil Elf yang sama, kami kembali menuju ke stasiun Rangkas Bitung, untuk kemudian melanjutkan perjalanan kereta ke Jakarta. Pukul 4.30 kereta membawa tubuh-tubuh penat kami, bersama kenangan yang turut serta kami bawa. Tiba di Jakarta, malam beserta gemerlap lampu kota serta-merta menyergap kami. Bising kendaraan yang kini terdengar asing, lalu-lalang orang-orang dan hiruk-pikuk mereka yang sibuk memenuhi pemandangan kami. Aaah... Selamat datang kembali.

Dan yang menjadi catatan saya dalam perjalanan ini adalah sampah plastik ada dimana-mana -botol minuman kemasan dan bungkus makanan/snack, di sepanjang jalur menuju dan keluar dari Baduy. Terus terang saja sangat merusak pemandangan yang asri. Saya yakin, orang Baduy sendiri sangat menjaga lingkungan. Mereka tidak akan membuang sampah sembarangan, apalagi ini sampah plastik yang sangat membahayakan alam mereka. Tetapi para tamu yang notabene orang luar, yang datang berkunjung kesana yang sayangnya tidak menghormati tuan rumah, salah satunya dengan membuang sampah tidak pada tempatnya. Perjalanan kali ini mungkin saya belum bisa berbuat sesuatu -karena serba dadakan dalam persiapan, tapi suatu hari nanti ketika saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sana lagi, ada misi yang ingin saya jalani, terutama masalah sampah ini. Sambil menyusuri jalan sambil memunguti sampah plastik yang berserakan, semoga nanti ada kesempatan.

Perjalanan ini benar-benar menyisakan kesan yang mendalam. Mengenal orang-orang baru yang sebelumnya saya tidak pernah tahu. Juga tentang kearifan lokal, bagaimana menjalani hidup dengan sederhana dengan cara menyelaraskan diri kita dengan alam dan orang-orang di sekitar kita.

Terimakasih mas Ersta, mba Tri & bang Ithing, Nico, Wisya & Ipeh, mba Widhya & mba Dita, Tedo & Aank, Ucok, Dian & Lidya. Terimakasih sudah menjadi teman perjalanan yang menyenangkan, saya seperti mendapat keluarga baru dengan adanya kalian. Semoga kita dipertemukan lagi dalam perjalanan yang lainnya.


30 September 2014
hampir sebulan setelah perjalanan.



07 Juni 2013

[catatan iseng] yang tercecer di dinding status


::
karena segala sesuatunya
berpasangan
pun berkebalikan
seperti langit bumi
seperti siang malam
seperti air api
seperti aku kamu

25012013, 7:59pm

::
aku kadang
tidak mengerti bagaimana
cara tangan Tuhan bekerja.
dulu semua mengalir sederhana
kita belajar saling menerima
berbagi duka dan tawa
bersama
tapi kini semua berpaling
kita begitu asing
membawa luka di dada
masing-masing.

12022013, 8:21pm

:: doa-doa menelan segala sesal dan pilu
dari debu kembali ke debu
: rabu abu


13022013, 10:16am

::
hening adalah malam
yang berjalan dalam diam
menjemput fajar ke ufuk
lalu lenyap tanpa bentuk

sementara dalam remang cahaya
ada yang terus mengeja
melafalkan sebuah nama
serupa mantra


24032013, 12:48am

::
kesiur angin
mengalirkan dingin
embun di daun
menunggu jatuh
datangnya subuh


24032013, 1:48am
 
::
di layar televisi
berita silih berganti
di suatu negeri
korupsi kian digemari
kejahatan semakin tidak manusiawi
juga kurangnya bertoleransi

O nurani
dimanakah ia kini?


24032013, 12:53pm

::
hangat mentari
menerobos jendela
pohon jambu di halaman
sesekali tertiup angin
sehelai daunnya jatuh
menemu takdirnya

lamat-lamat suara adzan
merambat pelan di kejauhan
tertelan deru kendaraan


24032013, 4:02pm

::
hujan menyisakan basah
di halaman rumah
kelelawar terbang
berkelebat
di rimbun pohon jambu
menggugurkan dedaun
melayang turun
dan di langit malam
bulan memucat
sendirian


27032013, 8:56pm

::
dan siang ini
kembali angka-angka
berderet mengular
di lembar kerja
sementara lapar ini
semakin tak terdefinisi


28032013, 1:01pm


::
angin gelisah
mendung mengepung
dari segala arah
pekat
langit mengisyarat
hujan pun jatuh
meluruh
menyentuh dedaunan
memercik di bebatuan
meresap ke dalam tanah
sementara
jejakmu kian samar
tak terbaca

tak terkata
31032013, 4:14pm

::
dan masih, ia
teringat padanya
pada dia
yang pernah saling
melengkapi
dia yang dengannya
pernah berbagi
di satu waktu
dulu


31032013, 8:32pm

::
langit gelisah
angin menderau
ke segala arah
dan hujan memercik
di kaca jendela
lalu jatuh
menggulir ke tanah
pasrah


04042013, 3:18pm

::
terik mentari
membakar kepala
langkah kaki-kaki
gegas menuju seruan
di kejauhan
tuhan memanggil
lewat pengeras suara


05042013, 11:41am

::
memandangi hujan
sore ini, selalu
ada yang tak pernah
tuntas kupahami


05042013, 4:49pm

::
memandang keluar
mendung memayungi
langit siang ini
angin pun seakan
enggan berdesir
geming
dan malas ini
makin tak terkendali


07042013, 11:53am

::
mungkin rindu itu
seperti langit hari ini
begitu tabah menahan
gumpalan-gumpalan awan
dan menggugurkannya
menjelma hujan
mungkin


07042013, 9:01pm

::
dari pucuk-pucuk menara
doa-doa menggema
mengapung di udara


19042013, 12:52pm

::
di peron tunggu
kaki-kaki terpaku
digelayuti rindu


20042013, 9:11pm

::
dari radio
kidung sekar macapat
mengalun di malam jumat
tembang megatruh
seperti gemuruh
seakan mengisyarat
tentang kehilangan dan duka
yang menyayat

ono pegat ora aruh-aruh
ono pegat ora ono sing weruh


17052013, 10:15pm


::
di meja makan
sambal tomat di cobek
merayu bakwan jagung
agar mau mencolek, dan
dari toples bening mengkilap
kerupuk udang terperangkap
memandang cemburu
sementara
butiran-butiran nasi
seakan tak perduli
mereka diam tenggelam
dalam lautan bayam


19052013, 1:54pm

::
dari kepul asap
wajahmu tergambar
tersenyum samar
sebelum memudar
perlahan
dan di atas meja
segelas kopi hitam
diam menunggu
ciuman bibirku


19052013, 4:30pm


::
telur di dapur
tampak bahagia
malam ini dia berenang
bersama si keriting mie
sawi hijau dan teman
kecilnya, cabai rawit.
dari bawah kuali
api riang menari-nari
sementara di luar jendela
hujan turun dengan derasnya


19052013, 6:37pm

18 Juni 2011

Halte

Hari menjelang sore ketika kau langkahkan kakimu keluar dari salah satu pusat perbelanjaan. Seperti biasanya kau menghabiskan waktu di sana, bukan untuk berbelanja apa yang menjadi kebutuhanmu, bukan pula sekedar nongkrong seperti yang dilakukan orang-orang itu. Tapi kau betah berlama-lama di sebuah toko buku. Kau bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca di rak buku sastra, dan kau sanggup bertahan bertumpu pada kedua kakimu untuk waktu yang lama.

Kau menengadah, mendung tebal menghias langit sore yang semestinya kelabu. Ah… musim penghujan ini belum berakhir rupanya. Hampir setiap sore selalu turun hujan, membuatmu tak bisa menikmati candhikkala1), fenomena alam yang selalu memesona. Padahal kau berharap seperti yang lalu-lalu, setelah puas membaca kau akan berjalan kaki menuju taman, duduk melepaskan penat sambil menghabiskan soremu dengan menikmati senja, menikmati semburat jingga di cakrawala.

Langit mulai menggugurkan mendung menjadi gerimis. Kau lanjutkan langkahmu menyusuri pedestrian, melewati kompleks pertokoan. Betapa bumi ini makin sesak dengan bangunan-bangunan yang berderet memanjang. Deru mesin kendaraan yang melintas memenuhi telingamu, diselingi suara klakson yang membuyarkan konsentrasimu. Sejenak kau menyesali diri, mengapa tak kau habiskan harimu di rumah saja. Menikmati kesepianmu sendiri.

Tiba-tiba kau teringat satu persatu teman-temanmu yang sudah menikah. Ah… menikah? Tidak. Menikah itu menghabiskan sisa umur kita bersama orang yang sama setiap saat setiap waktu. Banyak temanmu yang bilang, argumen yang kau lontarkan itu tipikal dari seorang pembosan yang belum benar-benar mengerti makna cinta sejati. Bahkan kata mereka, cinta bisa mengatasi rasa bosan. Tapi siapa yang bisa menjamin, selama perjalanan hidup kita takkan muncul rasa bosan. Justru kebosanan-kebosanan itulah yang bisa melunturkan cinta itu sendiri. Dan lagi, menikah bukan semata hanya karena cinta, tapi bagaimana caranya berkompromi dengan egomu untuk menyatukan perbedaan yang ada. Itu yang masih berat bagimu, berdamai dengan dirimu sendiri.

Hujan yang mulai mengguyur memaksamu untuk mencari tempat berteduh. Kau berlari ke arah halte yang kebetulan akan kaulewati. Sesampainya di halte, ternyata banyak juga orang yang senasib denganmu, mencari tempat berlindung dari hujan. Kau kibas-kibaskan rambutmu, dan memilih tempat agak ke belakang, mendekati tiang halte untuk bersandar padanya. Banyak di antara mereka pengendara motor yang terpaksa menghentikan lajunya, ada juga yang penumpang yang menunggu kendaraan yang akan mengangkut mereka ke tujuan, dan ada juga pejalan kaki sepertimu. Lalu matamu tertumbuk pada seorang gadis yang berdiri di ujung halte. Arah tigapuluhlima derajat dari sisi kananmu. Gadis itu semampai dan berambut panjang terurai. Mungkin umurnya sekitar duapuluhan. Selebihnya kau tak perdulikan. Kau mulai sibuk bertanya, berapa lama kau harus berdiri dan pasrah menatap hujan yang rebah ke tanah.

Sudah hampir satu jam kau berdiri, dan hujan belum juga berhenti. Sementara kendaraan datang silih berganti, menaik-turunkan penumpang. Tapi gadis itu tetap bergeming di tempatnya. Kau mulai penasaran dibuatnya. Kau lihat gadis itu diam, matanya menatap lurus ke arah jalan. Oh tidak, seperti lebih dari itu, menembus derasnya hujan. Andai saja kau bisa mengajaknya bicara, pasti kau akan bertanya kenapa dia bertahan begitu lama.

Apa yang kau tunggu di antara rintik hujan yang jatuh, serupa jeruji langit yang mengelilingi tubuh? Seakan membaca pikiranmu gadis itu menoleh ke arahmu. Kau tergeragap. Menggaruk-garuk kepalamu yang tak gatal untuk menutupi kegugupanmu, lalu kau alihkan pandang ke arah jalan yang kini mulai penuh dengan genangan. Titik-titik hujan yang jatuh membentuk lingkaran-lingkaran yang saling bersinggungan. Lalu buyar, mengalir ke sisi jalan dan berebut masuk ke dalam selokan.

Mungkin dia memang sedang menunggu kekasihnya, seperti Shinta yang menunggu kedatangan Rama untuk membebaskannya. Membebaskan dari hujan yang mengurung tubuhnya. Sejenak kau tersenyum, membayangkan dirimu menjadi Rahwana. Raksasa dengan sepuluh muka yang mengurung Shinta, mendamba cintanya. Hingga mau melakukan apa saja agar bisa memilikinya, termasuk menculiknya dari sisi Rama, kekasihnya. O, tidak. Kau hanya mengambil apa yang dijanjikan Dewa, Dewi Widowati yang kau puja yang menitis di dalam tubuh Shinta.

O, Shinta, kenapa kau mau bertahan untuk sesuatu yang sia-sia. Tahukah kau bahwa Rama, ksatria yang kau agungkan itu bahkan tak berani merebutmu langsung dari tanganku. Ksatria macam apa dia, yang meragukan kesetiaanmu, menyangsikan kesucianmu? Dan lagi, kenapa titisan wisnu yang sakti itu tak jua menjemputmu, sementara kau begitu tabah selama dibelenggu. Kemana saja dia selama kau menanggung derita? Bukankah ia hanya seorang laki-laki dengan sayap keperakan dan berbedak cahaya bulan? Ia laki-laki yang takut hujan!2)

Suara klakson mobil membuyarkan lamunanmu. Kau mengutuki dirimu, kenapa bisa berkhayal sejauh itu, melintasi zaman yang begitu purba. Kau lihat sekeliling, hujan berhenti menyisakan gerimis halus. Para pengendara motor yang berteduh sudah mulai meneruskan perjalanannya. Orang-orang juga mulai berlalu, pergi ke tujuannya masing-masing. Kau lihat arloji, hampir pukul enam sore. Saatnya kau pulang. Sesaat kau lihat gadis itu lagi, masih dengan posisi yang sama seperti saat kau tiba. Tapi kali ini wajahnya menunduk. Kau ayunkan kakimu meninggalkan halte, meninggalkan sebuah tanya untuk gadis itu. Mungkin memang benar dia sedang menunggu. Dan sepanjang perjalananmu pulang, pertanyaan itu kembali terngiang. Apa yang kau tunggu di antara rintik hujan yang jatuh, serupa jeruji langit yang mengelilingi tubuh?

170611 ; 09.57pm

catatan kaki :
1) candhikkala : senjakala, gurat merah di langit senja (kamus bahasa sansekerta)
2) Bait puisi Asmara Sinta Asmara Rahwana – Ganug Nugroho Adi.

14 Juni 2011

2nd haibun

.::.

Kau terjaga dari mimpimu. Mimpi yang singkat, namun begitu lekat kau ingat. Tentang sebuah rumah di dekat sawah, dan bunga terompet kuning yang berjejer sepanjang jalan setapak menuju kali di belakang rumah. Setiap pagi kicau burung membangunkan tidurmu, dan hangat mentari pagi menyapamu menerobos selimut kabut yang menghalangi pandang matamu. Lalu kau akan menyusuri setapak menuju kali, berendam dengan tenang sambil mendengarkan suara gemericik air yang membentuk harmoni alam. Raut mukamu tampak damai. Tapi kenyataannya, kau masih saja terperangkap dalam kamarmu yang pengap. Dan sinar matahari yang masuk melalui lubang angin di atas jendela, menyadarkanmu untuk segera bersiap-siap menuju tempatmu bekerja. Menjalani rutinitas yang sebenarnya. Berjalan di lorong sempit padat penghuni, berebut bis kota, terjebak macet, dan berkutat dengan angka-angka yang memusingkan kepala.

kuning pagi
hangat angan merekah
kuncup padma


130611 ; 03.53 pm

.::.

13 Juni 2011

1st haibun

.::.

Sudah puaskah dengan apa yang sekarang kau capai? Pertanyaan itu kembali terngiang di telingamu berulang kali. Kau menghela napas, membuang puntung rokok yang kesekian ke asbak, dan menggantinya dengan batang yang baru. Api memercik dari pemantik, sedetik kemudian asap mengepul dari bibirmu yang hitam. Kau lihat sekeliling. Segalanya kau punya. Rumah seisinya, mobil, deposito bahkan karir yang cemerlang. Tapi semua itu seakan tak berarti ketika tak kau temukan tawa riang bocah dan pendamping hidup yang setia untuk berbagi gelisah. Segalanya sunyi. Sepi yang mengerak dalam hati seperti ampas kopi yang selalu tertinggal di dasar cangkirmu setiap pagi. Kau merasa hampa dan sia-sia. Tiba-tiba kau teringat ibu dan ayah di rumah, yang selalu nampak mesra dan bahagia menjalani hidupnya.

kepak elang
meliuk tembus gemawan
candhikkala


120611 ; 10.52 pm

.::.

Terimakasih Om Albert atas koreksi haikunya.

20 April 2011

simbah

Ana pegat ora aruh-aruh
Ana pegat ora ana sing weruh*


Masih terekam jelas dalam ingatan ketika kau meninabobokanku dengan mengidung tembang pocung, aku tahu saat itu kau merindukan belahan jiwamu yang lebih dulu meninggalkanmu. Seperti halnya saat ini, aku begitu merindumu.

19042011 ; 16;47

*penggalan tembang macapat pocung
Perpisahan tak pernah memberi tahu
Perpisahan tak ada yang tahu

29 Maret 2011

seperti haiku

matari
terangmu kini berganti.
gelap menyelimuti

140311

25 Maret 2011

[18/31]

akhir pekan
bumi berpayung mendung
melankolia

180311 ; 11;41
'jelang hujan

24 Maret 2011

Tentang Keniscayaan Itu

Bukankah kematian adalah keniscayaan? Mungkin kau masih ingat ketika dulu kita membahasnya di malam temaram, ketika derik jangkrik berubah nyanyian suram. Seperti halnya getar cinta yang tiba-tiba terasa olehku saat pertama kali melihatmu, perasaan cinta itu datang tanpa kuundang, dan aku tak mampu menolaknya ketika ada yang berdesir di dada. Begitu juga mati, itu suatu kejadian yang pasti. Dan kita tak pernah tahu kapan hal itu akan terjadi.

Kematian adalah suatu keniscayaan. Dan mungkin kau akan selalu ingat, seperti saat ini di suatu pagi yang sunyi. Kau letakkan seikat bunga mawar biru di atas pusaraku yang membeku. Keniscayaan itu telah datang padaku, dan mungkin di lain waktu dia akan datang menjemputmu.

at office, 240311

09 Februari 2011

PoTreT buRaM NegEriKu

Day 12 – Whatever tickles your fancy

sebenarnya ini tulisan lama di blog lama saya yang sudah saya delete, cuma karena akhir-akhir ini mencuat kembali masalah anarkisme berkaitan dengan agama, ya saya ingin menyegarkan ingatan saya kembali dengan membaca tulisan saya ini yang kemudian saya update lagi (padahal lagi nggak ada ide buat bikin tulisan hehe...)


Beginikah wajah islam di Indonesia (sorry sekedar uneg-uneg)

Fenomena kekerasan yang dialami salah satu kelompok aliran agama yang dianggap sesat (Ahmadiyah), yang tak lain dilakukan oleh salah satu organisasi massa yang berlandaskan agama di Indonesia, memunculkan satu pertanyaan dalam benak saya, beginikah wajah Islam di Indonesia??? Atau mungkin lebih luas lagi, beginikah tingkah laku orang Indonesia, yang katanya beragama, ramah, tahu adat & sopan santun???

Saya lihat berita di TV dan koran, terjadi lagi bentrok antara ahmadiyah dengan ormas islam yang kali ini terjadi di Cikeusik, Pandeglang Banten, setelah sebelumnya sering terjadi tindakan kekerasan (bentrok) antara dua kubu tersebut di beberapa tempat di Indonesia.

Kalau memang aliran Ahmadiyah dinyatakan sesat sebagaimana tercantum dalam Fatwa MUI, kenapa tuntutan pembubaran aliran ini harus dengan jalan kekerasan seperti itu. Kenapa tidak dengan jalan damai, dialog & apabila dengan jalan dialog tidak mempan juga, ya dirangkul & diluruskan dong, diarahkan untuk kembali kepada Alquran & hadist, tanpa harus ada kekerasan dan pengrusakan yang menimbulkan kerugian. Kita ini negara hukum kok, setiap warga negara punya hak untuk dilindungi.

Dan lagi, tindak kekerasan ini tidak akan menyelesaikan masalah. Ini bukan seperti meluruskan besi yang bengkok dengan jalan ditempa untuk menjadi lurus kembali. Ini masalah aqidah, masalah keyakinan, di mana setiap orang berhak meyakini apa yang menurut mereka benar. Kalau ternyata keyakinan mereka melenceng dari aqidah islam, ya meluruskannya dengan jalan pendekatan persuasif, yaitu membujuk secara halus tanpa menggunakan kekerasan.

Dan sebagaimana yang kita ketahui, Ahmadiyah sudah ada di Indonesia hampir satu abad lalu, yaitu sekitar tahun 1925 ajaran Ahmadiyah pertama kali masuk ke Indonesia disebarkan oleh Maulana Rahmat Ali Haot yang datang dari Qadian, India. Dan itu berarti sudah dua generasi ajaran Ahmadiyah ini berkembang di Indonesia. Jadi tidak segampang itu kita bisa mengembalikan keyakinan mereka karena mereka sudah menganut ajaran ini sudah bertahun-tahun lalu bahkan mungkin sudah dari lahir karena mengikuti keyakinan orang tua.

Dan lagi, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia & katanya hampir 90% penduduk Indonesia adalah penganut Islam. Nah, melihat kenyataan yang seperti itu kan, seharusnya yang mayoritas mengayomi/melindungi yang minoritas. Apalagi ini dalam tubuh islam sendiri, kalo memang ada yang dianggap melenceng dari aqidah (Alquran & Hadist), ya diluruskan. Dengan catatan, tanpa anarki. Bukankah Islam mengajarkan kebaikan?? Islam yang saya tahu tidak mengajarkan kekerasan dan pengrusakan.

Saya jadi nggak habis pikir, maunya mereka itu apa sih??? Sering banget melakukan tindakan anarki. Bagi saya, mereka seperti gerombolan manusia (maaf, mungkin lebih tepatnya gerombolan preman) yang beringas & buas yang ga punya hati. Melakukan pengrusakan & kekerasan sambil meneriakkan nama Tuhan. Menyebut nama Tuhan dengan sia-sia. Kenapa kukatakan sia-sia, karena mereka menyebut nama Tuhan untuk pembenaran melakukan kekerasan. Menurut saya, selain menyebut nama Tuhan ketika kita Shalat & berdoa, menyebut nama Tuhan itu juga untuk mengingat & mengharap ridho atas perbuatan baik yang kita lakukan & menyebut nama Tuhan seyogyanya dalam kondisi hati kita damai & bersih dari rasa dengki & marah, sehingga diharapkan rahmat Tuhan akan senantiasa menaungi kita (semoga saja anggapan saya tidak salah).

Terus kemana HAM (Hak Asasi Manusia) yang selama ini banyak digembar-gemborkan. Bukankah tindakan yang dilakukan mereka itu salah satu bentuk pelanggaran HAM? Setiap warga negara berhak untuk hidup aman & bebas dari rasa takut seperti yang pernah dicetuskan Franklin D. Roseevelt hampir satu abad yang lalu. Kalo seperti ini kan, mereka (salah satu ormas yang berlandaskan agama) sudah menebarkan ketakutan, mengintimidasi, meneror dll. Saya yakin, mereka melakukan ini, karena Pemerintah tidak cepat bertindak dalam mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi sebagai akibat dikeluarkannya fatwa sesat dari MUI. Aparat keamanan kan dibentuk untuk melindungi masyarakat, tapi kok mereka seakan tidak berdaya & hanya menutup mata melihat banyaknya peristiwa kekerasan seperti itu. Terus lembaga yang melek hukum seperti LBH atau LSM yang peduli pada kasus-kasus pelanggaran HAM kok ya tidak kedengaran gaungnya dalam masalah ini, padahal biasanya mereka berteriak lantang bila ada penyimpangan. Departemen Agama (Depag) apalagi. Sama sekali tidak ada tindakan, mungkin karena kasus ini tidak ada duitnya kali ya, tidak seperti penyelenggaraan haji yang sarat pungutan.

Menurutku saya, lebih baik organisasi masyarakat yang tumbuh di Indonesia yang mengatasnamakan agama (FPI dll) & suku (FBR, Forkabi & organisasi sejenisnya dari suku2 di Indonesia seperti Batak, Madura, Jawa dll) dibubarkan saja. Karena dengan adanya organisasi seperti itu malah menimbulkan jurang perbedaan yang ada semakin dalam. Mereka akan saling bersaing untuk mengukuhkan eksistensi kelompoknya tanpa melihat keadaan sekelilingnya.

Mustinya kita kembali lagi ke Falsafah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika. Bahwa adanya perbedaan itu seharusnya menjadikan kita lebih solid & harus siap untuk melebur menjadi satu yaitu Indonesia, tanpa melihat suku, agama, ras & antar golongan (SARA).

Atau mungkin memang Indonesia seharusnya dijajah lagi? Sehingga masyarakatnya baru bisa benar-benar mengerti maknanya persatuan & pentingnya Pancasila sebagai pedoman hidup dalam berbangsa & bernegara???

Jd emosi niy.... :(

08 Februari 2011

(kem)AyU

Day 11 – A photo of you taken recently

*saya yang paling casual di antara yang feminim hehe... berkerudung & berbatik coklat


Foto ini diambil kira-kira dua bulan yang lalu, menggunakan kamera saya Digicam Canon Powershot A550 di acara resepsi pernikahan salah satu temen kantor saya yang bernama Wiwid. Nah, foto di atas itu bersama teman-teman satu departemen dengan saya, yaitu bagian hitung-menghitung :-D.

Sebenarnya saya orangnya narsis, dimana ada kamera disitu ada wajah saya. Cuma sudah beberapa bulan ini saya lagi nggak begitu suka dengan potret-memotret. Bahkan sejak saya tepar kena DBD oktober waktu itu sampai sekarang, saya tidak pernah lagi dateng ke acara kumpul sastra (Reboan, RTS dll), padahal di acara-acara tersebut biasanya saya berburu objek untuk saya abadikan di kamera saya.

04 Februari 2011

MetaMorFosA(?)

Day 10 – A photo of you taken over ten years ago


02 Februari 2011

MengAbAdikAn MakhLuk TuhAn

Day 09 – A photo you took

Fotografi adalah proses melukis dengan menggunakan media cahaya. Nah, bidang seni ini sedang saya pelajari, bagaimana mendapatkan moment yang pas dari segi pencahayaan juga sudut pandang. Berikut ini beberapa hasil jepretan amatir dari tangan saya :D

Pringadi Abdi Surya sedang membaca puisi di panggung Sastra Reboan

Nana S dengan candi prambanan

Jodhi Yudono, dedengkot Tangerang Serumpun yang juga redaktur sastra kompas.com

Trie Utami saat peluncuran buku puisinya Abhayagiri di acara Riungan Tangerang Serumpun

Johannes Sugiyanto, dedengkot dan penggiat Sastra Reboan

Hudan Hidayat, si lelaki ikan dan nabi tanpa wahyu

Iwan Soekri, cerpenis dan novelis (foto ini rencananya untuk cover buku terbarunya :D)

Dari semua gambar di atas, ada satu hal penting yang bisa saya dapat yaitu melatih kesabaran. Saya benar-benar menikmati kesabaran saya untuk mendapatkan moment yang pas yang menurut saya susah saya dapatkan, seperti gambar Om Iwan Soekri yang sedang menyalakan rokok

semua foto di atas menggunakan Digicam Canon Powershot A550

01 Februari 2011

B(r)enCaNa aLaM

Day 08 - A photo that makes you sad/angry









Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai. pepatah itu (mungkin) ada benarnya, bahwa dharma yang tertunaikan pasti akan mendapat balasan. Sama halnya dengan apa yang kita lakukan kepada alam, ketika kita sudah tidak mampu menghargai alam (dengan eksploitasi diluar batas kewajaran) maka alam pun (mungkin) mempunyai rencana untuk kita, salah satunya (mungkin) dengan isyarat bencana.


*gambar mengambil dari berbagai sumber di internet

29 Januari 2011

my LittLe nEphEw

Day 07 – A photo that makes you happy


namanya Angga, dia keponakan saya, anak dari kakak laki-laki saya. April nanti usianya tepat 3 tahun. Ngegemesin anaknya, udah gitu ngomong bahasa jawanya alus, kromo inggil, kalah dech saya hehe...

28 Januari 2011

seJeNaK meNghiLaNgkaN JeJaK

Day 06 – Whatever tickles your fancy

Menghilang… Iya, akhir-akhir ini saya sering banget ngomong “pengen dech bisa ngilang, kemana gitu…” ke teman-teman saya. Beberapa minggu terakhir ini memang lagi jenuh-jenuhnya, entah kenapa. Too much problem & reasons I think, makanya “menghilang” sepertinya menjadi kata favorit saya saat ini. Mungkin teman-teman saya bosan kali ya, karena saya keseringan ngomong begitu… Maaf ya man-teman, semoga kalian mengerti. Atau gimana kalo kita janjian ngilang bareng aja he..he..

Sering saya berkhayal bisa mempunyai kemampuan tribe seperti yang pernah saya baca di tetralogi Klan Otori karangan Lian Hearn. Yaitu tentang anak muda bernama Otori Takeo yang mempunyai kemampuan berada di dua tempat sekaligus, serta mampu menghilang. Dia juga mempunyai pendengaran yang sangat tajam dan jurus tatapan tidur, jadi bisa menidurkan orang atau binatang dengan hanya menatap matanya.

Nah… saya sering membayangkan punya kekuatan semacam itu. Misalnya saja tiba-tiba jenuh, seperti saat ini, yang tiap hari duduk mantengin monitor komputer dan regulary task yang monoton. Dengan kemampuan tribe yang saya miliki, saya akan membuat sosok kedua lalu menyelinap keluar (sedang teman-teman satu ruangan dengan saya akan tetap melihat sosok pertama saya yang tetap terlihat duduk menghadap komputer) dan saya bebas pergi kemanapun saya suka. Paling saya akan jalan-jalan ke Citos, mall tak jauh dari kantor saya hanya sekedar melihat-lihat, ngopi sambil makan donut atau baca-baca di Aksara. Atau kalo enggak memungkinkan untuk kabur keluar kantor, saya akan menyelinap ke mushola dan meringkuk di sana he..he..

Terus misalnya tiba-tiba saya ketahuan nih, maka saya akan menggunakan kemampuan menghilang atau memakai jurus tatapan tidur, saya akan menatap mata orang yang memergoki saya, lalu untuk beberapa saat orang itu terlupa dan akan jatuh tertidur kemudian saya akan kembali aman. Hm… sepertinya sangat menyenangkan :-D

Tapi saya sering berkhayal juga untuk menghilang secara permanen. I mean, pergi meninggalkan semuanya ke suatu tempat di mana saya nggak kenal sama sekali dengan orang-orangnya, begitu juga mereka nggak akan tahu tentang sejarah saya. Hm… negara yang bakal saya pilih adalah New Zealand. Saya bakal memulai hidup saya menjadi petani di sana, punya Ranch (peternakan sapi/domba, kalo di Australia & New Zealand lebih dikenal dengan istilah Outback) di pedalaman desa, punya ladang gandum & peternakan kuda. Dan lagi-lagi, khayalan saya yang ini terinspirasi dari novel impor yang saya beli seharga sepuluh ribu perak jaman saya kuliah dulu, judulnya Return to Opal Reach karangan Clarissa Garland.

Nah… Itu rencana kalo saya bisa "menghilang". Andai kalian dikasih kesempatan menghilang, kalian mau menghilang ke mana??

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP