07 Juni 2013

[catatan iseng] yang tercecer di dinding status


::
karena segala sesuatunya
berpasangan
pun berkebalikan
seperti langit bumi
seperti siang malam
seperti air api
seperti aku kamu

25012013, 7:59pm

::
aku kadang
tidak mengerti bagaimana
cara tangan Tuhan bekerja.
dulu semua mengalir sederhana
kita belajar saling menerima
berbagi duka dan tawa
bersama
tapi kini semua berpaling
kita begitu asing
membawa luka di dada
masing-masing.

12022013, 8:21pm

:: doa-doa menelan segala sesal dan pilu
dari debu kembali ke debu
: rabu abu


13022013, 10:16am

::
hening adalah malam
yang berjalan dalam diam
menjemput fajar ke ufuk
lalu lenyap tanpa bentuk

sementara dalam remang cahaya
ada yang terus mengeja
melafalkan sebuah nama
serupa mantra


24032013, 12:48am

::
kesiur angin
mengalirkan dingin
embun di daun
menunggu jatuh
datangnya subuh


24032013, 1:48am
 
::
di layar televisi
berita silih berganti
di suatu negeri
korupsi kian digemari
kejahatan semakin tidak manusiawi
juga kurangnya bertoleransi

O nurani
dimanakah ia kini?


24032013, 12:53pm

::
hangat mentari
menerobos jendela
pohon jambu di halaman
sesekali tertiup angin
sehelai daunnya jatuh
menemu takdirnya

lamat-lamat suara adzan
merambat pelan di kejauhan
tertelan deru kendaraan


24032013, 4:02pm

::
hujan menyisakan basah
di halaman rumah
kelelawar terbang
berkelebat
di rimbun pohon jambu
menggugurkan dedaun
melayang turun
dan di langit malam
bulan memucat
sendirian


27032013, 8:56pm

::
dan siang ini
kembali angka-angka
berderet mengular
di lembar kerja
sementara lapar ini
semakin tak terdefinisi


28032013, 1:01pm


::
angin gelisah
mendung mengepung
dari segala arah
pekat
langit mengisyarat
hujan pun jatuh
meluruh
menyentuh dedaunan
memercik di bebatuan
meresap ke dalam tanah
sementara
jejakmu kian samar
tak terbaca

tak terkata
31032013, 4:14pm

::
dan masih, ia
teringat padanya
pada dia
yang pernah saling
melengkapi
dia yang dengannya
pernah berbagi
di satu waktu
dulu


31032013, 8:32pm

::
langit gelisah
angin menderau
ke segala arah
dan hujan memercik
di kaca jendela
lalu jatuh
menggulir ke tanah
pasrah


04042013, 3:18pm

::
terik mentari
membakar kepala
langkah kaki-kaki
gegas menuju seruan
di kejauhan
tuhan memanggil
lewat pengeras suara


05042013, 11:41am

::
memandangi hujan
sore ini, selalu
ada yang tak pernah
tuntas kupahami


05042013, 4:49pm

::
memandang keluar
mendung memayungi
langit siang ini
angin pun seakan
enggan berdesir
geming
dan malas ini
makin tak terkendali


07042013, 11:53am

::
mungkin rindu itu
seperti langit hari ini
begitu tabah menahan
gumpalan-gumpalan awan
dan menggugurkannya
menjelma hujan
mungkin


07042013, 9:01pm

::
dari pucuk-pucuk menara
doa-doa menggema
mengapung di udara


19042013, 12:52pm

::
di peron tunggu
kaki-kaki terpaku
digelayuti rindu


20042013, 9:11pm

::
dari radio
kidung sekar macapat
mengalun di malam jumat
tembang megatruh
seperti gemuruh
seakan mengisyarat
tentang kehilangan dan duka
yang menyayat

ono pegat ora aruh-aruh
ono pegat ora ono sing weruh


17052013, 10:15pm


::
di meja makan
sambal tomat di cobek
merayu bakwan jagung
agar mau mencolek, dan
dari toples bening mengkilap
kerupuk udang terperangkap
memandang cemburu
sementara
butiran-butiran nasi
seakan tak perduli
mereka diam tenggelam
dalam lautan bayam


19052013, 1:54pm

::
dari kepul asap
wajahmu tergambar
tersenyum samar
sebelum memudar
perlahan
dan di atas meja
segelas kopi hitam
diam menunggu
ciuman bibirku


19052013, 4:30pm


::
telur di dapur
tampak bahagia
malam ini dia berenang
bersama si keriting mie
sawi hijau dan teman
kecilnya, cabai rawit.
dari bawah kuali
api riang menari-nari
sementara di luar jendela
hujan turun dengan derasnya


19052013, 6:37pm

18 Juni 2011

Halte

Hari menjelang sore ketika kau langkahkan kakimu keluar dari salah satu pusat perbelanjaan. Seperti biasanya kau menghabiskan waktu di sana, bukan untuk berbelanja apa yang menjadi kebutuhanmu, bukan pula sekedar nongkrong seperti yang dilakukan orang-orang itu. Tapi kau betah berlama-lama di sebuah toko buku. Kau bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca di rak buku sastra, dan kau sanggup bertahan bertumpu pada kedua kakimu untuk waktu yang lama.

Kau menengadah, mendung tebal menghias langit sore yang semestinya kelabu. Ah… musim penghujan ini belum berakhir rupanya. Hampir setiap sore selalu turun hujan, membuatmu tak bisa menikmati candhikkala1), fenomena alam yang selalu memesona. Padahal kau berharap seperti yang lalu-lalu, setelah puas membaca kau akan berjalan kaki menuju taman, duduk melepaskan penat sambil menghabiskan soremu dengan menikmati senja, menikmati semburat jingga di cakrawala.

Langit mulai menggugurkan mendung menjadi gerimis. Kau lanjutkan langkahmu menyusuri pedestrian, melewati kompleks pertokoan. Betapa bumi ini makin sesak dengan bangunan-bangunan yang berderet memanjang. Deru mesin kendaraan yang melintas memenuhi telingamu, diselingi suara klakson yang membuyarkan konsentrasimu. Sejenak kau menyesali diri, mengapa tak kau habiskan harimu di rumah saja. Menikmati kesepianmu sendiri.

Tiba-tiba kau teringat satu persatu teman-temanmu yang sudah menikah. Ah… menikah? Tidak. Menikah itu menghabiskan sisa umur kita bersama orang yang sama setiap saat setiap waktu. Banyak temanmu yang bilang, argumen yang kau lontarkan itu tipikal dari seorang pembosan yang belum benar-benar mengerti makna cinta sejati. Bahkan kata mereka, cinta bisa mengatasi rasa bosan. Tapi siapa yang bisa menjamin, selama perjalanan hidup kita takkan muncul rasa bosan. Justru kebosanan-kebosanan itulah yang bisa melunturkan cinta itu sendiri. Dan lagi, menikah bukan semata hanya karena cinta, tapi bagaimana caranya berkompromi dengan egomu untuk menyatukan perbedaan yang ada. Itu yang masih berat bagimu, berdamai dengan dirimu sendiri.

Hujan yang mulai mengguyur memaksamu untuk mencari tempat berteduh. Kau berlari ke arah halte yang kebetulan akan kaulewati. Sesampainya di halte, ternyata banyak juga orang yang senasib denganmu, mencari tempat berlindung dari hujan. Kau kibas-kibaskan rambutmu, dan memilih tempat agak ke belakang, mendekati tiang halte untuk bersandar padanya. Banyak di antara mereka pengendara motor yang terpaksa menghentikan lajunya, ada juga yang penumpang yang menunggu kendaraan yang akan mengangkut mereka ke tujuan, dan ada juga pejalan kaki sepertimu. Lalu matamu tertumbuk pada seorang gadis yang berdiri di ujung halte. Arah tigapuluhlima derajat dari sisi kananmu. Gadis itu semampai dan berambut panjang terurai. Mungkin umurnya sekitar duapuluhan. Selebihnya kau tak perdulikan. Kau mulai sibuk bertanya, berapa lama kau harus berdiri dan pasrah menatap hujan yang rebah ke tanah.

Sudah hampir satu jam kau berdiri, dan hujan belum juga berhenti. Sementara kendaraan datang silih berganti, menaik-turunkan penumpang. Tapi gadis itu tetap bergeming di tempatnya. Kau mulai penasaran dibuatnya. Kau lihat gadis itu diam, matanya menatap lurus ke arah jalan. Oh tidak, seperti lebih dari itu, menembus derasnya hujan. Andai saja kau bisa mengajaknya bicara, pasti kau akan bertanya kenapa dia bertahan begitu lama.

Apa yang kau tunggu di antara rintik hujan yang jatuh, serupa jeruji langit yang mengelilingi tubuh? Seakan membaca pikiranmu gadis itu menoleh ke arahmu. Kau tergeragap. Menggaruk-garuk kepalamu yang tak gatal untuk menutupi kegugupanmu, lalu kau alihkan pandang ke arah jalan yang kini mulai penuh dengan genangan. Titik-titik hujan yang jatuh membentuk lingkaran-lingkaran yang saling bersinggungan. Lalu buyar, mengalir ke sisi jalan dan berebut masuk ke dalam selokan.

Mungkin dia memang sedang menunggu kekasihnya, seperti Shinta yang menunggu kedatangan Rama untuk membebaskannya. Membebaskan dari hujan yang mengurung tubuhnya. Sejenak kau tersenyum, membayangkan dirimu menjadi Rahwana. Raksasa dengan sepuluh muka yang mengurung Shinta, mendamba cintanya. Hingga mau melakukan apa saja agar bisa memilikinya, termasuk menculiknya dari sisi Rama, kekasihnya. O, tidak. Kau hanya mengambil apa yang dijanjikan Dewa, Dewi Widowati yang kau puja yang menitis di dalam tubuh Shinta.

O, Shinta, kenapa kau mau bertahan untuk sesuatu yang sia-sia. Tahukah kau bahwa Rama, ksatria yang kau agungkan itu bahkan tak berani merebutmu langsung dari tanganku. Ksatria macam apa dia, yang meragukan kesetiaanmu, menyangsikan kesucianmu? Dan lagi, kenapa titisan wisnu yang sakti itu tak jua menjemputmu, sementara kau begitu tabah selama dibelenggu. Kemana saja dia selama kau menanggung derita? Bukankah ia hanya seorang laki-laki dengan sayap keperakan dan berbedak cahaya bulan? Ia laki-laki yang takut hujan!2)

Suara klakson mobil membuyarkan lamunanmu. Kau mengutuki dirimu, kenapa bisa berkhayal sejauh itu, melintasi zaman yang begitu purba. Kau lihat sekeliling, hujan berhenti menyisakan gerimis halus. Para pengendara motor yang berteduh sudah mulai meneruskan perjalanannya. Orang-orang juga mulai berlalu, pergi ke tujuannya masing-masing. Kau lihat arloji, hampir pukul enam sore. Saatnya kau pulang. Sesaat kau lihat gadis itu lagi, masih dengan posisi yang sama seperti saat kau tiba. Tapi kali ini wajahnya menunduk. Kau ayunkan kakimu meninggalkan halte, meninggalkan sebuah tanya untuk gadis itu. Mungkin memang benar dia sedang menunggu. Dan sepanjang perjalananmu pulang, pertanyaan itu kembali terngiang. Apa yang kau tunggu di antara rintik hujan yang jatuh, serupa jeruji langit yang mengelilingi tubuh?

170611 ; 09.57pm

catatan kaki :
1) candhikkala : senjakala, gurat merah di langit senja (kamus bahasa sansekerta)
2) Bait puisi Asmara Sinta Asmara Rahwana – Ganug Nugroho Adi.

14 Juni 2011

2nd haibun

.::.

Kau terjaga dari mimpimu. Mimpi yang singkat, namun begitu lekat kau ingat. Tentang sebuah rumah di dekat sawah, dan bunga terompet kuning yang berjejer sepanjang jalan setapak menuju kali di belakang rumah. Setiap pagi kicau burung membangunkan tidurmu, dan hangat mentari pagi menyapamu menerobos selimut kabut yang menghalangi pandang matamu. Lalu kau akan menyusuri setapak menuju kali, berendam dengan tenang sambil mendengarkan suara gemericik air yang membentuk harmoni alam. Raut mukamu tampak damai. Tapi kenyataannya, kau masih saja terperangkap dalam kamarmu yang pengap. Dan sinar matahari yang masuk melalui lubang angin di atas jendela, menyadarkanmu untuk segera bersiap-siap menuju tempatmu bekerja. Menjalani rutinitas yang sebenarnya. Berjalan di lorong sempit padat penghuni, berebut bis kota, terjebak macet, dan berkutat dengan angka-angka yang memusingkan kepala.

kuning pagi
hangat angan merekah
kuncup padma


130611 ; 03.53 pm

.::.

13 Juni 2011

1st haibun

.::.

Sudah puaskah dengan apa yang sekarang kau capai? Pertanyaan itu kembali terngiang di telingamu berulang kali. Kau menghela napas, membuang puntung rokok yang kesekian ke asbak, dan menggantinya dengan batang yang baru. Api memercik dari pemantik, sedetik kemudian asap mengepul dari bibirmu yang hitam. Kau lihat sekeliling. Segalanya kau punya. Rumah seisinya, mobil, deposito bahkan karir yang cemerlang. Tapi semua itu seakan tak berarti ketika tak kau temukan tawa riang bocah dan pendamping hidup yang setia untuk berbagi gelisah. Segalanya sunyi. Sepi yang mengerak dalam hati seperti ampas kopi yang selalu tertinggal di dasar cangkirmu setiap pagi. Kau merasa hampa dan sia-sia. Tiba-tiba kau teringat ibu dan ayah di rumah, yang selalu nampak mesra dan bahagia menjalani hidupnya.

kepak elang
meliuk tembus gemawan
candhikkala


120611 ; 10.52 pm

.::.

Terimakasih Om Albert atas koreksi haikunya.

20 April 2011

simbah

Ana pegat ora aruh-aruh
Ana pegat ora ana sing weruh*


Masih terekam jelas dalam ingatan ketika kau meninabobokanku dengan mengidung tembang pocung, aku tahu saat itu kau merindukan belahan jiwamu yang lebih dulu meninggalkanmu. Seperti halnya saat ini, aku begitu merindumu.

19042011 ; 16;47

*penggalan tembang macapat pocung
Perpisahan tak pernah memberi tahu
Perpisahan tak ada yang tahu

Penunggu KOTA

Penikmat KATA

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP